Rabu, 09 Juni 2010

Ibrah Dari Kekuatan Nabi Musa As

TUGAS
QASHASH AL-QUR’AN
Tentang
KEKUATAN TENAGA, FISIK DAN MENTAL
NABI MUSA AS




Oleh:
Alex Sandra
409.052

Dosen Pembimbing:
Dr.Risman Bustamam, M.Ag


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI-B)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
2010 M / 1431 H

KEKUATAN TENAGA, FISIK DAN MENTAL
NABI MUSA AS
(QS. Al Qashash : 14-17)

I.Pendahuluan

Kita sama-sama mengetahui bahwa didalam Al-Qur'an terdapat banyak pelajaran-pelajaran yang dapat kita ambil dan kita jadikan pedoman dalam kehidupan kita.Salah satu pelajaran yang dapat kita pahami yaitu pelajaran yang berasal dari kisah-kisah yang terjadi pada zaman dulu yang diceritakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Al Karim
Banyak sekali kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang kita jumpai yang berhubungan dengan para nabi dan rasul terdahulu. Diantaranya adalah kisah Nabi Musa As, dan dari kisah-kisah Nabi Musa As ini banyak sekali pelajaran ataupun ibrah yang dapat kita ambil. Salah satunya yaitu kisah beliau ketika menolong dua orang yang berkelahi yaitu seorang dari kelompok Fir'aun (kaum Qitbi) dan seorang dari kaumnya (Bani Israil )
Oleh karena itu, penulis mencoba untuk mengurai bagaimana kisah tersebut sebenarnya agar dapat kita jadikan pedoman bagi kita dalam mengarungi kehidupan kita diatas dunia ini.

II. Lafadz Ayat dan Terjemahan
Surat Al-Qashash Ayat 14-17
14.Dan setelah Musa cukup umur dan Sempurna akalnya, kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. dan Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
15.Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah[1115], Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan[1116] Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).
16.Musa mendoa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah menganiaya diriku sendiri Karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
17.Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi nikmat yang Telah Engkau anugerah- kan kepadaku, Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa".

III.Analisis Unsur-unsur Kisah
Dari ayat diatas dapat kita analisa beberapa unsur kisah yang ada dalam kisah tersebut, diantaranya:
1.Tokoh
Diantara tokoh-tokoh yang dapat dianalisa dari kisah tersebut adalah :
 a. Nabi Musa As
 b. Seorang laki-laki dari golongannya (Bani Israil)
 c. Seorang laki-laki dari musuhnya (kaum Fir'aun)
2.Alur
Dari kisah diatas ddapat kita analisa bahwa kisah diatas menggunakan alur maju. Dimana kisah diceritakan secara runtut dari awal sampai akhir kisah.
3.Latar
Ada 2 macam latar yang menonjol dari kisah tersebut, yaitu :
Latar Tempat
Kisah tersebut terjadi pada sebuah kota. Didalam ayat dikatakan,” Dan Musa masuk ke kota (Memphis) (QS. Al Qashash:15)
Latar waktu
Kisah tersebut terjadi pada waktu Musa sudah menginjak dewasa yang didalam ayat disebutkan,” Dan setelah Musa cukup umur dan Sempurna akalnya” (QS. Al Qashash:14) yaitu ketika penduduknya sedang lengah (QS. Al Qashash:15). Sedang lengah disini bisa kita tafsirkan yaiut ketika penduduk sedang beristirahat pada waktu tengah hari atau sekitar jam 12.00-14.00 WIB jika kita umpamakan dengan waktu didaerah kita.

IV.Analisa fokus / Tafsir Surat
1. Musa Membunuh Lawannya dengan Sekali Pukulan
Dari surat diatas dapatlah kita analisa bahwa, pada suatu hari Musa menyelinap masuk ke kota tanpa diketahui orang banyak, yaitu ketika orang-orang sedang tidur siang hari sesudah waktu Zuhur.
Sesuai dengan firmannya: "wadakhla" /dia masuk ke kota” (ayat 15)memberikan kesan bahwa kerajaan Fir’aun berada di luar kota, dan dikukuhakan dengan firman-Nya pada ayat 20 yang menyatakan: datanglah dari ujung kota seorang laki-laki.
Dia melihat dua orang laki-laki yang sedang berkelahi yang seorang adalah dari kaum Bani Israel dan seorang lagi dari bangsa Qibti, penduduk asli negeri Mesir yang dianggapnya sebagai musuhnya karena mereka selalu menghina dan menganggap rendah golongan Bani Israel. Salah seorang dari kaumnya itu berteriak meminta tolong untuk melepaskannya dari kekejaman lawannya.
Kata "Fastaghsahu" (ayat 15) yang terambil dari kata Ghauts yaitu pertolongan untuk menampik kesulitan atau bahaya.. Di waktu itu timbullah amarahnya dan bangkitlah rasa fanatik kepada kaumnya. Maka ia memburu orang Israel itu dan tanpa memikirkan akibat perbuatannya, karena amarahnya, dipukulnya orang Qibti itu. Sesuai dengan kata "wakaza" (ayat 15) yang terambil dari kata “al-Wakz” yaitu memukul dengan kepala tangan / meninju. Konon, pukulannya itu mengenai dada korban, akibat pukulan yang dahsyat itu orang Qibti rubuh ke tanah, tidak bergerak lagi, karena ia sudah mati.
2. Penyesalan Nabi Musa As
Sebenarnya Musa tidak sekali-kali bermaksud hendak membunuhnya, tetapi ternyata orang itu sudah mati dengan sekali pukulan saja Musa amat menyesal atas keterlanjurannya itu dan menganggap tindakannya itu adalah tindakan yang salah, tindakan yang tergopoh-gopoh, dan dia berkata kepada dirinya sendiri. "Perbuatanku ini adalah perbuatan setan yang selalu memperdayakan manusia agar melakukan kelaliman dan maksiat Sesungguhnya aku telah terperosok masuk perangkap setan yang menjadi musuh manusia yang selalu berusaha untuk menyesatkannya.
Dan ketidaksengajaan itu dikesankan dengan kata (faqadhaalaihi)(ayat 15) yang maksudnya adalah mematikannya, bukan dengan menyatakan fa qatalahu/ maka dia membunuhnya.
Sayyid Quthub berpendapat bahwa penilaian Musa as bahwa apa yang terjadi itu sebagai perbuatan setan disebabkan karena beliau sadar bahwa yang dilakukannnya itu dalah karena dorongan fanatisme kesukuan yang tidak wajar dilakukan, padahal dia adalah seorang yang terpilih menjadi seorang rasul dan terpelihara oleh allah swt.
Di kala itu ia memohonkan ampun kepada Tuhannya, seraya berkata, "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah Menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, mengampuni kesalahan Musa itu, dan dengan pengampunan itu tenteramlah hati Musa dan bebaslah dia dari kebimbangan dan kesusahan memikirkan nasibnya karena melakukan perbuatan dosa itu. Memang pengampunan itu adalah rahmat dan karunia dari Allah. Di antara karunia-Nya yang banyak kepada Musa sebagai tersebut dalam firman-Nya yang Artinya: (yaitu) Ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia Berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan kami Telah mencobamu dengan beberapa cobaan; Maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan, Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan Hai Musa,
Karena dosanya telah diampuni Tuhan barulah dia merasa lega dan menyadari bahwa pengampunan itu adalah karena rahmat dan karunia Tuhannya yang diberikan kepadanya. Dia berjanji bahwa dia tidak akan melakukan kesalahan itu lagi dan tidak akan menjadi pembantu bagi orang yang melakukan kesalahan apalagi bantuan itu akan membawa kepada penganiayaan atau pembunuhan.
Selanjutnya Nabi Musa as mempersembahkan puji-pujian kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehnya selam ini. Dia berkata : Tuhanku, demi dan dusebabkan apa, yakni aneka nikmat dan anugerah yang selama ini telah engkau anugerahkan kepadaku sejak aku dalam perut ibunku, hingga pengampunan-Mu ini, demi semua itu, aku tidak akan menjadi penolong bagi para pendurhaka,(ayat 17)
V.Kesimpulan : Pelajaran atau Ibrah
Dari kisah yang diceritakan dalam al-qur’an tersebut, ada beberapa pelajaran ataupun ibrah yang dapat kita ambil, diantaranya yaitu:
1.Nabi Musa As adalah laki-laki yang kuat fisik dan mentalnya

Kita dapat memahami betapa kuat dan perkasanya Nabi Musa As, dengan sekali pukulan saja beliau dapat membunuh seseorang. Coba kita lihat tidak ada seorang petinju profesionalpun yang dapat mengalahkan lawannya hanya dengan sekali pukulan saja melainkan membutuhkan beberapa pukulan beruntun untuk menumbangkan lawannya dan itupun tidak sampai mati.
Tapi kita harus yakin bahwa Musa bukanlah seorang pribadi yang anarkis. Ia sama sekali tidak punya niat membunh melainkan berusaha melerai perkelahian. Apalagi untuk melerai orang yang membabi buta memang memerlukan pukulan agar ia tersadar.
Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda haruslah memilki stamina yang kuat baik itu kuat fisik maupun kuat mental. Fisik yang kuat dan prima sangat penting bagi kita generasi muda karena kita mungkin dituntut untuk memiliki tenaga yang ekstra seperti :bekerja tanpa henti siang malam, dan tugas yang banyak yang perlu segera diselesaikan dan mungkin yang demikian itu akan lebih berat dari pada yang dilakukan Musa.
Kita harus menjaga stamina kita dengan rajin-rajin berolahraga, memperhatikan makanan yang akan kita makan serta beristirahat yang cukup. Jika hal itu sudah kita lakukan Insyaalah tubuh kita akan menjadi kuat dan perkasa. Tetapi fisik yang kuat harus kita manfaatkan untuk membela yang benar sebagaimana yang dilakukan Musa, jangan sampai tenaga kuat yang kita miliki kita gunakan untuk menindas yang lemah dari kita.
Selain fisik kita juga harus memiliki mental yang kuat agar permasalahan yang kita hadapi dapat kita selesaikan dengan baik. Kalau kita memiliki tenaga yang kuat tapi tidak mempunyai mental yang kuat maka hal itu tidak akan ada gunanya karena mental dan fisik merupakan dua hal yang saling berkaitan erat.
Buktinya, kalaulah Nabi Musa as hanya memiliki tenaga yang kuat tapi tidak mempunyai mental yang kuat mungkin dia tidak akan sanggup untuk membantu kaumya yang sedang berkelahi dan tidak akan mungkin dia bisa samapai membunuh lawannya hanya dengan sekali pukulan saja.
Dengan demikian, tenaga yang kuat harus kita lengkapi dengan mental yang kuat pula serta harus kita barengi dengan iman dan taqwa agar tenaga yang kita miliki bisa kita pergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat baik itu bagi kita maupun bagi orang lain.
2.Nabi Musa As selalu memohon ampun kepada allah setiap melakukan kesalahan
Sebagai seorang Muslim dan sebagai generasi muda tentu kita sering melakukan kesalahan dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, kita harus selalu memohon ampun kepada Allah setiap melakukan kesalahan. Kita harus mencontoh sikap Nabi Musa As yang memohon ampun kepada allah ketika dia berbuat dosa. Ketika dia dengan tidak sengaja telah membunuh seorang manusia, dia lansung menyesal dan memohon ampun kepada Allah SWT dan Allah pun mengampuninya karena Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat
3.Kita hendaklah selalu bersukur kepada Allah SWT
Betapa banyak nikmat yang telah diberikan oleh allah kepada kita,sehingga kalau kita mencoba untuk menghitung nikmatnya tersebut, mungkin kita tidak akan bisa untuk menghitungnya.Oleh karena itu kita harus mensyukuri nikmat allah ayang telah diberikannya itu, karena jika kita mensyukuri nikamat yang telah diberikanya kepada kita maka beliau akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita tapi jika kita kufur maka sesungguhnya azab allah itu sangatlah pedih.
Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Musa as, disaat dia diberi oleh allah nikmat maka dia bersyukur dan berterima kasih kepada allah atas nikmat yang begitu banyak diberikan allah kepadanya, mulai dari ia dilahirkan sampai kepada pengampunan allah atas dosanya yang dengan tidak sengaja telah membunuh seorang lawannya.

VI. Daftar Pustaka
Al-Qur’anul Karim

Syeikh Muhammad Ghazali, Tafsir Tematik Dalam Al-qur’an, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004

Yoli Hemdi, Tafsir Gaul, Bebas Masalah Cara Al-Qur’an, Sidoarjo: Kalil

M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan keserasian Al_Qur’an, Jakarta: Lentera Hati,2002

Ust.M.Hamid, Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an, Surabaya: CV.Karya Utama, 1997

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=28#Top

Tidak ada komentar:

Posting Komentar