Jumat, 22 Oktober 2010

Makalah Ilmu Kalam

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Dalam makalah ini yang berjudul Akidah Islam, yang terbagi atas akidah pokok dan cabang. Pada zaman sekarang ini kita sudah mendapatkan realita yang ada bahwa akidah orang-orang Islam sangat jauh sekali dari yang diharapkan.

Kalau kita lihat ini di akibatkan karena kurangnya pemahaman orang-orang islam itu sendiri terhadap ajaran islam. Maka dari itu kami pemakalah mencoba untuk memaparkan ajaran islam yang yang akan menjadi dasar pemahaman terutama bagi kita senagai mahasiwa.

B. Batasan masalah

1. Akidah Islam Pokok dan Cabang

2. Zat Allah dan Sifat-Sifatnya

3. Makna Syahadat

4. Tauhid dan pembagiannya

C. Tujuan

Tujuan kami disini adalah untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan akidah cabang dan pokok serta mengetahui apa yang disebut dengan akidah. Juga disini dijabarkan tentang pengertian dari Zat Alah dan sifat-sifat-Nya, makna syahadat, Tauhid dan pembagiannya. Dan tujuan yang paling utama adalah bagaimana kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Akidah Islam

Secara etimologis, akidah berasal dari kata ‘aqada-ya’qidu-‘aqdan-’aqidatan. ‘aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah tebentuk menjadi aqidah berarti keyakinan. Dan relevansi dari kata aqidah dan aqdan adalah keyakinan itu tersimpul kuat didalam hati bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.Sedangkan secara istilah, terdapat beberapa definisi, antara lain:

Menurut Hasan al-Banna, “aqa’id ( bentuk jamak dari kata aqidah ) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.

Dan menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy, aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia didalam hati serta diyakini keshahihan dan keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.[1]

Jadi menurut kami, aqidah itu adalah sejumlah perkara yang bisa diterima oleh manusia, menentramkan jiwa dan diyakini kebenarannya sehingga tidak ada satupun bercampur dengan keragu-raguan.

1. Akidah pokok

Akidah umat Islam pada masa Nabi dan masa khalifah Abu Bakar As-Sidik dan Umar bin Khattab masih dapat dipertahankan yaitu disebut Rukun Iman yang mencakup 6 aspek dalam pembahasan ini disebut dengan “akidah pokok” yaitu sebagai berikut:

a. Iman kepada Allah

b. Iman kepada Malaikat-Malaikat Allah

c. Iman kepada Kitab-Kitab Allah

d. Iman kepada Rasul-Rasul Allah

e. Iman kepada Hari Kiamat

f. Iman kepada Qada dan Qadar

Jadi menurut kami akidah pokok itu adalah aqidah umat islam yang masih murni dan terpelihara sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw yang tercakup didalam Arkanul Imam yang enam.

2. Akidah Cabang

Setelah berakhirnya kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab umat Islam tidak dapat menahan diri dengan apa yang telah dijaga bersama. Kemudian muncul permasalah yang melahirkan peristiwa pembunuhan Khalifah Usman bin Affan (Tahun 345-656 M), oleh para pemberontak yang sebagian besar dari Mesir yang tidak puas dengan kebijakan politiknya.

Memang secara lahir nampak peristiwa ini adalah persoalan politik yang berkembang menjadi persoalan Akidah (Teologi) serta melahirkan berbagai kelompok dan aliran teologi dengan pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Pada masa ini umat islam tidak mampu lagi mempertahankan kesatuan dan keutuhan akidah, karena masing-masing berusaha membuka persoalan akidah yang pada masa sebelumnya terkunci. Masing-masing kelompok membawa keluar persoalan akidah untuk dilepaskan bersama kelompoknya sehingga muncul pemahaman versi kelompok tersebut.

Maka lahir cabang-cabang akidah yang pemahaman bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman,[2] diantaranya :

a. Masalah Tuhan

Dengan berkembangnya filsafat dikalangan kaum muslimin dan sebagainya menjadikan kaum muslimin terusik untuk membicarakan perihal ketuhanan secara lebih luas melalui kedalaman ilmunya sehingga melahirkan pemahaman yang berbeda (ikhtilaf) dalam sekitar pembahasan ketuhanan diantaranya mengenai zat, sifat, dan af’al/perbuatan Tuhan.

Dalam masalah zat Tuhan muncul pendapat yang menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat bentuk jasmani/fisik. Golongan ini disebut Mujassimah (orang-orang yang merumuskan Tuhan). Sedangkan dalam masalah sifat Tuhan juga muncul persoalan, apakah Tuhan itu mempunyai sifat atau tidak. Dalam hal ini muncul 2 golongan pendapat :

Pertama : Golongan Mu’atilah yang diwakili oleh Golongan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Dia adalah Esa, bersih dari hal-hal yang menjadikan tidak Esa. Mereka meng Esakan Tuhan dengan mengosongkan Tuhan dari berbagai sifat-sifat.

Kedua : Golongan Ahlus Sunah Wal Jamaah yang diwakili oleh golongan (Asy’ariyah dan Maturidiyah ) meyakini bahwa Tuhan mempunyai sifat yang sempurna dan tidak ada yang menyamai-Nya. Mensifati Tuhan dengan sifat-sifat kesempunaan tidak akan mengurangi ke Esaan-Nya

b. Masalah kitab-kitab/ wahyu

Permasalahan yang diikhtilafkan dalam persoalan kitab dikalangan orang Islam ialah apakah Al-Qur’an itu Qadim (kekal) atau hadis (baru). Golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah Qadim, bukan makhluk (diciptakan). Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah tidak qadim karena Al-Qur’an itu diciptakan (makhluk).

c. Masalah nabi dan rasul

Masalah yang masih diperselisihkan dalam kaitannya dengan iman kepada para Nabi dan Rasul adalah mengenai jumlah. Hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah seluruhnya adalah 124.000 orang. Dari sejumlah itu yang diangkat menjadi Rasul ada 313 orang.

d. Masalah hari kiamat

Para ulama telah sepakat dalam masalah adanya hari kiamat dan hal-hal yang terjadi didalamnya hanya saja mereka Ikhtilaf tentang apa yang akan dibangkitkan. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dibangkitkan meliputi jasmani dan rohani. ini dikeluarkan oleh golongan Ahlus Sunah Wal Jamaah. Adapun pendapat kedua yang dibangkitkan adalah rohnya saja.

e. Masalah takdir

Dalam persoalan mengimani takdir, orang Islam sepakat perlunya meyakini adanya ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk yang ada dialam semesta ini. Namun berbeda dalam memahami dan mempraktekannya

Golongan Jabariyah yang dipelopori oleh Jahm bin Sahfwan berpendapat bahwa takdir Allah berarti manusia memiliki kemampuan untuk memilih, segala perbuatan dan gerak yang dilakukan manusia pada hakikatnya adalah dari Allah semata, manusia menurut mereka sama seperti wayang yang digerakkan oleh ki dalang karena itu manusia tidak mempunyai bagian sama sekali dalam mewujudkan perbuatan-Nya.

Pendapat lain bahwa manusia mampu mewujudkan perbuatannya. Tuhan tidak ikut campur tangan dalam perbuatan manusia itu dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena takdir Allah SWT. Golongan mereka disebut Aliran Qadariyah yang dipelopori oleh Ma’bad Al-Jauhari dan Gharilan Al-Damsiki.

B. Zat Allah dan sifat-sifat-Nya

Kaum muslimin pada masa abad pertama hijriyah tidak pernah membicarakan ayat-ayat yang bersifat mutasyabihat seperti ayat yang membicarakan sifat-sifat tuhan, dan mereka juga tidak mau menakwilkan, karena tuhan maha sucidan tidak biasa disamakan dengan makhluk. Dengan perkataan lain, tidak ada pesamaan antara alam lahir dengan alam gaib. Waktu mereka hanya banyak digunakan untuk menghadapi yang lebih penting, yaitu penyiaran agama islam dan mempekuat dasar-dasar agama yang baru berdiri.

Akan tetapi, sesudah masa mereka timbullah persoalan sifat yang menjadi pembicaraan golongan-golongan islam, antara lain:

1. Musyabbihah

Aliran ini mengatakan bahwa tuhan mempunyai muka, dua tangan, dua mata, bahkan lebih dari itu, Tuhan adalah jisim (tubuh) lain dari tubuh biasa.

2. Muktazillah

Pendirian golongan Musyabbihat yang berlebihan. Menimbulkan reaksi hebat pada Golongan Muktazillah yang menyifati Tuhan dengan “Esa”, “qadim” dan berbeda dari makhluk.

3. Filosof-Filosof Islam

Pendapat filosof-filosof islam seperti Al-kindi, Al Farabi mendekati pendapat Muktazilah. Mereka mengingkari berbilangnya sifat Tuhan dan mensucikan-Nya semurni-murninya.

Filosof tersebut mengadakan pemisahan benar-bear antara Allah dan manusia. Pada manusia kita mengetahui dirinya sendiri lain daripada sifat-sifatnya, dan tiap-tiap sifat lain dari pada sifat yang lainnya. Tidak demikian halnya bagi Tuhan, karena Tuhan adalah wujud pertama yang ada dengan sendirinya.

Ringkasnya para filosof-filosof tidak meniadakan sifat-sifat tetapi lebih suka mensucikan Tuhan sejauh mungkin.

4. Asy’ariyah

Aliran ini juga mengadakan pemisahn antara sifat-sifat salabi (negative) dan sifa ajabi (positif). Pendiriannya tentang sifatsifat negative sam dengan golongan muktazilah, akan tetapi dalam sifat positif berbeda pendiriannya. Menurut pendapatnya, sifat ijabi berbeda dengan zat tuhan antara sifat-sifat itu sendiri berlainan satu sama lain.

5. Maturidi

Ia mengatakan bahwa berbicara tentang sifat harus didasarkan atas pengakuan bahwa tuhan mempunyai sifat-sifat nya sejak zaman azali, tanpa pemisahan antara sifat-sifat zat, seperti kodrat dan sifa-sifat aktiva (perbuatan, sifat af’al), seperti menciptakan, menghidupakn, memberi rizki dan lain-lain.

6. Ibnu Rusyd

Menurut Ibnu Rusyd, sifat-sifat Tuhan yang disebutkan dalam al-Quran tidak perlu menimbulkan bilangan sama sekali pada zat nya, meskipun bilangan yang tidak menghilangkan keesaan Tuhan,karena sifat-sifat Tuhan terbagi 2, yaitu sifat zat dan wujud dan sifat-sifat perbuatan.[3]

C. Makna syahadat “La Ilaha Illallah”

Kata Ilah mempunyai pengertian yang sangat luas, mencakup pengertian Rububiyah dan Mulkiyah, maka kata inilah yang diambil oleh Allah SWT untuk kalimat Thayyibah yaitu: La Ilaha Illallah

Iqrar la ilaha illallah bersifat komprehensif, mencakup pengertian:

1. La Khaliqa Illallah (Tidak Ada Yang Maha Menciptakan Kecuali Allah)

2. La Raziqa Illallah (Tidak Ada Yang Maha Memberi Kecuali Allah)

3. La Hafiza Illallah (Tidak Ada Yang Maha Memelihara Kcuali Allah)

4. La Mudabbira Illallah (Tidak Ada Yang Maha Mengelola Kecuali Allah)

5. La Malika Illallah (Tidak Ada Yang Maha Memiliki Kecuali Allah, Tidak Ada Yang Maha Memiliki Kerajaan Kecuali Allah)

6. La Waliya Illallah (Tidak Ada Yang Maha Memimpin Keculai Allah)

7. La Hakima Illallah (Tidak Ada Yang Maha Menentukan Kecuali Allah)

8. La Ghayata Illallah (Tidak Ada Yang Maha Menjadi Tujuan Kecuali Tuhan)

9. La Ma’buda Illallah (Tidak Ada Yang Maha Disembah Keculai Allah)[4]

Kalau kita tinjau sebenarnya kalimat La Illaha Illallah mengandung dua makna, yaitu makna penolakan segala bentuk sesembahan selain Allah, dan makna menetapkan bahwa satu-satunya sesembahan yang benar hanyalah Allah semata.[5] Berkaitan dengan mengilmui kalimat ini Allah ta’ala berfirman:

Artinya:

“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”.

Laa Ilaaha Illallah adalah asas dari Tauhid dan Islam dengannya terealisasikan segala bentuk ibadah kepada Allah dengan ketundukan kepada Allah, berdoa kepadanya semata dan berhukum dengan syariat Allah.

Seorang ulama besar Ibnu Rajabb mengatakan: Al ilaah adalah yang ditaati dan tidak dimaksiati, diagungkan dan dibesarkan, dicintai, ditakuti, dan dimintai pertolongan/ harapan. Itu semua tak boleh dipalingkan sedikit pun kepada selain Allah. Kalimat Laa Ilaaha Illallah bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya selama tidak membatalkannya dengan aktifitas kesyirikan.[6]

Intinya kalimat thoyyibah tahlil tersebut adalah sebuah untaian janji/sumpah seorang muslim terhadap Robb-nya, karena dalam kata “Laa Ilaaha illallah”. “Laa” bermakna nafiyah, artinya meniadakan. ialah meniadakan segala bentuk Ilaah (ma’bud) yg diabdi oleh manusia, baik dalam bentuk simbol, benda (materi),undang-undang/hukum, kepemimpinan (kerajaan/negara/organisasi), hingga sebuah ideologi (keyakinan/argumen), selain dari pada Haqqulloh.

Illa adalah huruf istisna (pengecualian) yang mengecualian Allah dari segala mcam jenis ilah yang dinafikan. Dengan demikian kalimat tauhid ini mengandung pengertian bahwa tiada Tuhan yang benar-benar berhak disembah dan patut disebut Tuhan kecuali Allah SWT.[7]

Jadi, makna kata laa ilaaha illalah sebenarnya adalah sebuah untaian janji/sumpah seorang muslim terhadap rabb-nya bahwa tidak ada Tuhan yang benar-benar berhak disembah kecuali Allah SWT.

D. Tauhid dan pembagiannya

Perkataan tauhid berasal dari bahasa arab, yang merupakan mashdar dari kata Wahhada-Yuwahhidu. Secara etimologis, tauhid berarti keesaan. Maksudnya iktikad atau keyakinan bahwa Allah SWT adalah esa, tunggal, satu. Pengertian ini sejalan dengan pengertian tauhid yang digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu “Keesaan Allah” dan mentauhidkan berarti mengakui keesaan allah atau mengesakan allah.[8]

Secara sederhana tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan,[9] yaitu:

1. Tauhid Rububiyah

Secara etimologis kata “Rabb” sebenarnya mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan, mendidik, memelihara, memperbaiki, menanggung, mengumpulkan, mempersiapkan, memimpin, mengepalai, menyelesaikan sutu perkara, memiliki dan lain-lain.

Tauhid Rububiyah ialah suatu kepercayaan, bahwa yang menciptakan alam dunia ini hanya allah sendiri tanpa bantuan siapapun, dunia ini ada tidak sendirinya tetapi ada yang menciptakan dan ada pula yang menjadikan yaitu Allah SWT.

Firman allah SWT:

Artinya: “(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”.(QS. Al-An’am : 102)

uqรจd ยช!$# รŸ,รŽ=»yรธ9$# รคร$t7รธ9$# รขรˆhq|รรŸJรธ9$# ( รฃ&s! รžOล ร…3ptรธ:$# ร‡ร‹รรˆ

Artinya: ”Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al-Hasyir : 24)

Kita mengetahui bahwa Allah Maha Kuat, Allah Maha Agung, tiada suatu makhluk pun yang bisa menyamai kekuatan Allah dan tidak ada kekuatan untuk menyamai af’al –Nya Allah SWT. Dengan kita meyakini hal tersebut, maka akan timbullah kesadaran dalam diri kita untuk mengagungkan allah, makhluk harus bertuhan hanya kepada allah tidak kepada yang lain. Maka keyakinan inilah yang disebut dengan Tauhid Rububiyah.

Jadi, Tauhid Rububiyah adalah meyakini bahwa tiada yang membuat, mengurus dan mengatur semua makhluk ini selain Allah SWT.

2. Tauhid Mulkiyah

Kata “malik” yang berarti raja dan “malik” yang berarti memiliki berasal dari akar kata yang sama yaitu “ma-la-ka”. Dalam pengertian bahasa ini, Allah SWT sebagai Rabb yang memili alam semesta (Al-Alamin) adalah raja dari alam semesta tersebut, dia bisa dan bebas melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap alam semesta tersebut.

Banyak ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT adalah pemilik dan raja dari langit dan bumi ini, antara lain:

รถNs9r

Artinya :

“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolon”g.(QS. Al-Baqarah 2: 107)

Bila kita mengimani bahwa hanya Allah lah yang menguasai alam semesta ini maka kita minimal harus mengakui bahwa Allah SWT adalah pemimpin (Wali), penguasa yang menentukan (Hakim), dan yang menjadi tujuan (Ghayah)

3. Tauhid Ilahiyah

Kata Ilah berasal dari kata “a-la-ha” yang mempunyai arti antara lain tenteram, tenang, lindungan, cinta, dan sembah. Dan diantara makna kata Ilah tersebut yang paling asasi adalah makna ‘abada yang mempunyai arti: hamba sahaya (‘abdun), patuh dan tunduk(‘ibadah), yang mulia dan yang agung(al-ma’bad), selalu mengikuti(‘abada bih).

Jadi, Tauhid Ilahiyah adalah mengimani bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya al-ma’bud (yang disembah).

Dalam hal ini allah berfirman:

Artinya :

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”.(QS. Thaha 20: 14)

Dan didalam buku Ilmu Tauhid Lengkap karangan Zainuddin kami temukan, bahwa tauhid itu terbagi kedalam 3 bagian, yaitu: Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Ubudiyah.

Tauhid Ubudiyah pada dasarnya adalah sebagai sebuah konsekuensi dari keyakinan kita bahwa tiada tuhan selain allah (Tauhdid Ilahiyah-Uluhiyah) dan bahwa tidak ada yang menciptakan, mengurus dan mengatur alam semesta ini (Tauhid Rububiyah). Maka kita pun harus meyakini bahwa tidak ada suatu pun yang berhak disembah dan mendapat pengabdian (ibadah) dari kita selain dari Allah SWT.[10]

Penyembahan disini bukan bermaksud bahwa Allah minta disembah oleh hambanya tetapi penyembahan disini adalah sebagai bentuk ketaatan, kepatuhan antara hamba dengan tuhannya, antara makhluk dengan khaliknya, tidak ubahnya seperti ketundukan seorang anak kepada orang tuanya dan ketundukan seorang bawahan kepada pemimpinnya

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Aqidah adalah sejumlah perkara yang bisa diterima oleh akal pikiran manusia, menentramkan jiwa dan diyakini kebenarannya sehingga tidak ada satupun bercampur dengan keragu-raguan. Dan akidah itu terbagi 2, yaitu:

1) Akidah Pokok

2) Akidah Cabang.

persoalan sifat yang menjadi pembicaraan golongan-golongan islam, antara lain:

1) Musyabihata

2) Muktazilah

3) Filosof-filosof Islam

4) Asy’ariyah

5) Maturidi

6) Ibn Rusyd

Secara sederhana tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu:

1) Tauhid Rububiyah

2) Tauhid Mulkiyah

3) Tauhid Ilahiyah

B. Saran

Pada makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi susunan katanya, penulisannya dan lain sebagainya. Maka kami sebagai pemakalah mengucapakn banyak ma’af atas kekurangan kami karna kami hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Dam kami juga mengharapkan kritik dan saran yang mendukung, dan semoga dengan kritik dam saran yang di berikan bisa kami jadikan pelajaran untuk memperbaiki makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-qura’anul karim

Ilyas, Yunahar, Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta: LPPI Universitas Muhamdiyah Yogyakarta, 2006

Tim penyusun kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, cet ke-2, 1989

Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: Rineka Cipta, 1992

http://ahmadazhar.wordpress.com/2009/03/02/makalah-tauhid-ilmu-kalam/

http://tarbiyahislam.wordpress.com/2007/02/12/tahukah-antum-makna-syahadat-laa-ilaaha-illallaah/

Hanafi, Ahmad, Teologi Islam (Ilmu kalam), cet ke-12, Jakarta: Bulan Bintang, 2001



[1] Yunahar ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: LPPI Universitas Muhamdiyah Yogyakarta, 2006), h.1

[2] http://ahmadazhar.wordpress.com/2009/03/02/makalah-tauhid-ilmu-kalam/

[3] Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta: Bulan bintang, cet ke-12, 2001), h.106

[4] Yunahar ilyas, op.cit, h.30

[6] Ibid

[7] Yunahar Ilyas, op.cit, h.31

[8] Tim penyusun kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia,( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1989) cet.ke-2., h.907

[9] Yunahar Ilyas, op.cit, h.18

[10] Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap,( Rineka Cipta, Jakarta: 1992), h. 22


1 komentar: